Di suatu hari…
Di kali, Putih sedang mencuci baju..
Banci : “Aduh, kok bagus banget selendangnya. Cucok bambang sama eke… (
celingak-celinguk) ambil aja ah!”
Putih : “Baju udah bersih semua. Jarik. Jarik juga. Mm.. Apa lagi ya? (
mencari di tumpukan cucian) Lho, selendangnya Ibu mana? Aduh, kok nggak ada sih! Wah, alamat kena damprat..”
Sesampainya di rumah..
Putih : “Ibu, itu pakaiannya sudah saya cuci semua.”
Ibu : “Ternyata pinter juga kamu.. Ya sudah, sana ke dapur, cuci piring!”
Putih : “Iya, Bu..”
Ibu : “Hmm, wangi.. Eh, lho, sebentar, sebentar.. Mana? Lho, selendangku kemana nih? Putih!
Abang : “Kenapa sih, Bu? Siang-siang kok ramai, waktunya orang tidur. Lagi enak-enak mimpi basah, eh, mimpi indah.”
Ibu : “Ini lho, selendangnya Ibu kok nggak ada. Putih! Putiiih!
Putih : “Ya, Bu..”
Ibu : “Heh, di mana selendangku?”
Putih : “Anu, Bu.. Anu..”
Ibu : ”Malah ngomong jorok! Cepat, mana?”
Putih : “Anu, hilang, Bu..”
Ibu : “Apa? Hilang? Dasar anak alas kurang ajar!”
Abang : “Selendang yang mana sih, Bu?”
Ibu : “Itu, selendang Ibu yang warna kuning itu lho. Yang bagus sendiri.”
Abang : “Oo, yang itu.. Yang dulu beli obralan di Ramayana itu?”
Ibu : “Hush! Gitu-gitu Ibu harus menabung tiap hari.”
Abang : “Ya sudah, Bu, disuruh cari saja sampai ketemu. Nggak usah pulang kalau belum ketemu!”
Putih : “Tapi..”
Ibu : “Kenapa? Kok masih tapai-tapi lagi.. Sana cepat pergi!”
Putih : “Tapi.. (
menangis)”
Abang : “Eh, eh, lho kok malah nangis sih?”
Putih : “Anu.. Jempolku jangan diinjak dong..”
Putih kembali ke kali tempat dimana dia mencuci baju tadi..
Putih : “Aduh gimana nih.. Kalau tidak cepat ketemu nanti nggak makan sehari aku..”
Putih : “Eh, kok selendangnya mbaknya itu sama dengan punyanya Ibu ya? (
melongo) Ah, tapi masa iya sih?
Kakek : “Tolong! Tolooong!
Putih : “Ada apa, Kek?
Kakek : “Ini lho, kacamata Kakek jatuh, nggak bisa ngambil.. Rematiknya kakek juga kambuh, nggak bisa membungkuk (
membungkukkan badan)
Putih : ”Lho.. (
mengambilkan kacamata, malu) Ini, Kek..”
Kakek : ”Terimakasih ya, anak cantik.. (
memakai kacamata) Wah, kok cantik beneran!
Putih : (
cengengesan) ”Saya permisi dulu, Kek..”
Kakek : ”Jangan terburu-buru.. Sebentar, sebentar, nak.. Ini.. (
memberi plastik berisi ikan)”
Putih : (
bingung) “Terimakasih, Kek..”
Kakek : “Hati-hati ya dengan ikannya! Yang rukun..”
Putih : (
mengguncang-guncang ikan)
Ikan : “Aduh, pusing kepalaku! Jangan keras-keras dong!”
Putih : “Astaghfirullah! Siluman apa kamu?
Ikan : “Eits! Aku bukan siluman. Aku ikan asli.. Tapi gini-gini aku itu ikan ajaib. Kaya lampu ajaib di ceritanya Aladdin itu lho”
Putih : “Oo.. Berarti bisa sulapan juga ya? Ck ck..”
Ikan : “Jika hanya sulapan ya gampang dong!”
Putih : “Ah, yang bener?”
Ikan : “Oke. Kamu mau apa?”
Putih : “Apa ya? Mm.. Aku belum makan dari tadi pagi, aku minta roti saja”
Ikan : “Gampang!” (
seseorang melempar roti ke Putih)
Putih : (
meniru iklan) “Wah, ajaib!”
Ikan : “Apa lagi?”
Putih : “Oya, selendangnya Ibu hilang, kamu bisa tolong aku?”
Ikan : “Oo itu.. Tidak usah dicari, nanti juga ketemu sendiri dengan orang yang mengambil”
Putih : “Hah? Diambil orang? Siapa?”
Ikan : “Ciri-cirinya, mbak-mbak, tapi bukan mbak-mbak. Banci.. Punya tahi lalat di pipi kanannya”
Putih : “Maksudnya gimana sih? Eh, lho, lho.. Kok ikannya merem. Eh, jangan tidur dulu!
Sementara itu, dirumah..
Ibu : “Aduh, rumah kok kotornya minta ampun. Abang, ayo nak, Ibu dibantu bersih-bersih”
Abang : “Alah Ibu ini lho, nanti aku malah bau. Nanti tidak ada yang mau sama aku gimana..”
Ibu : “Cup-cup nak.. Kamu itu cantik, tidak akan ada yang tidak mau sama kamu..”
Abang : “He he he.. Siapa dulu dong Ibunya..”
Putih : “Aduh, yang mana sih! Kok mirip-mirip semua. Tanya sama mbaknya itu aja ah! (
menghampiri banci)
Putih : “Mbak, mbak, anu.. Mau tanya..”
Banci : “Tanya eke? Apa? Nama? Atau nomer telepon?”
Putih : “Bukan! Anu, begini lho.. Mau tanya, mbak tahu tidak, ada perempuan yang memakai selendang kuning?”
Banci : (
menyembunyikan selendang) ”Eke nggak tahu tuh. Eh kalo boleh tau, ciri-cirinya gimana sih?”
Putih : “Pokoknya pakai selendang warna kuning. Mm.. Juga ada tahi lalat di pipi kanannya, seperti.. Ya seperti mbaknya ini!
Banci : “Yey pasti salah orang! Ini bukan tahi lalat, tapi tanda lahir. Yang lain aja ye! Dah..” (
menjatuhkan selendang)
Putih : “Lho, itu kan selendangnya Ibuku!”
Banci : (
mengambil selendang) ”Oo bukan! Bukan!”
(lari)
Putih : “Eh, eh, tunggu mbak! Mbak!” (
mengejar)
Di kerajaan Antah Berantah, Pangeran Panji Asmoro Sakit Mata Keliliban Bata sedang susah mencari jodoh..
Pangeran : “Aduh Tuhan.. Kenapa belum ada yang cocok denganku?”
(
pengawal datang)
Pengawal : ”Lapor, Pangeran..”
Pangeran : “Bagaimana, apa sudah disebar pengumumannya?”
Pengawal : “Sudah, Pangeran. Para gadis sudah dikasih tahu semua”
Pangeran : “Ya sudah. Kalau begitu sekarang siapkan kuda, ayo kita ke desa!”
Pengawal : “Siap, Boss!”
Abang : “Ibu! Ibu!”
Ibu : “Ada apa sih, nak?
Abang : “Ini lho Bu, ada sayembara. Pangeran sedang mencari istri. Aku mendengar dari tetangga depan rumah itu lho”
Ibu : “Wah berita bagus tuh! Jangan sampai disia-siakan!”
Abang : “Tapi Bu, Putih bagaimana?”
Ibu : “Alah, tenang saja.. Pangeran pasti terpesona denganmu, akan memilihmu”
Abang : “Ah, yang bener, Bu?”
Ibu : “Percaya dong sama Ibu.. Ayo cepat, kamu siap-siap dandan yang cantik, nanti kalau-kalau Pangeran ke sini”
Abang : “Iya, Bu..”
Pada waktu itu Putih sedang mengejar orang banci tadi yang mengambil selendang Ibunya..
Putih : “Hayoo.. Sekarang kamu nggak bisa ke mana-mana” (
terengah-engah)
Banci : “Ampun! Ampun.. Iya, iya, eke yang mengambil selendangmu. Tapi ampun ya.. Ampun!
Putih : “Ya. Tapi cepat kembalikan!”
Banci : “Tapi eke sudah cucok bambang dengan selendang ini. Huuu…“
Putih : “Aku bisa-bisa dihajar jika tidak membawa kembali selendang itu. (
berpikir) Ya begini saja deh, tukar-tukaran saja. Selendang itu aku tukar dengan ikan ini mau tidak? Harus mau lho!”
Banci : “Plis deh! Kok cuma ikan sih?”
Putih : “Sudah mencuri masih nawar! Jangan sembarangan, ini ikan ajaib lho”
Banci : “Masa? Ya sudah, daripada tidak dapat apa-apa. Nyoh! (
menukar selendang dengan ikan)
Putih : “Thanks ya!”
Banci : “Yuuukk..”
Pangeran : “Pringisi.. Eh, permisi..” (
jatuh)
Ibu : “Hati-hati dong, Pangeran.. Silahkan masuk dulu.. Abang! Ini lho, ada Pangeran”
Abang : “Eh, Pangeran.. Lebih ganteng daripada yang di foto (
colak-colek)”
Pangeran : (
risih) “Anu, anak Ibu hanya satu?”
Ibu : “Oo, iya! Ini anak perempuan semata wayang saya. Cantik, kan! Abang namanya”
Abang : (
mesam-mesem)
(
Putih lalu datang)
Putih : “Lho, ada apa ini kok ramai-ramai?”
Ibu+Abang : (
melotot) “Putih!”
Putih : “Itu lho, Bu. Selendang Ibu sudah ketemu”
Pangeran : (
menggumam) “lho, gadis ini kan yang sering aku impi-impikan..”
Abang : “Aduh, Pangeran.. Dia itu hanya saudara angkat saya”
Pangeran : (
mengangkat satu tangan) “Kalian semua dengarkan saya.. Sebenarnya saya sudah menemukan siapa yang akan saya jadikan istri”
Ibu : “Siapa, Pangeran?”
Abang : “Ya pasti aku ya, Bu?”
Pangeran : “Ehem.. Putih, sini.. (
menggenggam tangan Putih)
Putih : (
keheranan)
Abang : “Lho, tapi.. Tapi”
Pangeran : “Ayo cantik, ikut aku.. (
berteriak) MAK , AKU MAU KAWIIIN!
Pangeran dan putih menikah dan mereka pun bahagia selamanya..........