4

Naskah Drama kelasku: SELENDANG BAWA KAWIN

Di suatu hari…



Di kali, Putih sedang mencuci baju..

Banci : “Aduh, kok bagus banget selendangnya. Cucok bambang sama eke… (celingak-celinguk) ambil aja ah!”

Putih : “Baju udah bersih semua. Jarik. Jarik juga. Mm.. Apa lagi ya? (mencari di tumpukan cucian) Lho, selendangnya Ibu mana? Aduh, kok nggak ada sih! Wah, alamat kena damprat..”


Sesampainya di rumah..

Putih : “Ibu, itu pakaiannya sudah saya cuci semua.”

Ibu : “Ternyata pinter juga kamu.. Ya sudah, sana ke dapur, cuci piring!”

Putih : “Iya, Bu..”

Ibu : “Hmm, wangi.. Eh, lho, sebentar, sebentar.. Mana? Lho, selendangku kemana nih? Putih!

Abang : “Kenapa sih, Bu? Siang-siang kok ramai, waktunya orang tidur. Lagi enak-enak mimpi basah, eh, mimpi indah.”

Ibu : “Ini lho, selendangnya Ibu kok nggak ada. Putih! Putiiih!

Putih : “Ya, Bu..”

Ibu : “Heh, di mana selendangku?”

Putih : “Anu, Bu.. Anu..”

Ibu : ”Malah ngomong jorok! Cepat, mana?”

Putih : “Anu, hilang, Bu..”

Ibu : “Apa? Hilang? Dasar anak alas kurang ajar!”

Abang : “Selendang yang mana sih, Bu?”

Ibu : “Itu, selendang Ibu yang warna kuning itu lho. Yang bagus sendiri.”

Abang : “Oo, yang itu.. Yang dulu beli obralan di Ramayana itu?”

Ibu : “Hush! Gitu-gitu Ibu harus menabung tiap hari.”

Abang : “Ya sudah, Bu, disuruh cari saja sampai ketemu. Nggak usah pulang kalau belum ketemu!”

Putih : “Tapi..”

Ibu : “Kenapa? Kok masih tapai-tapi lagi.. Sana cepat pergi!”

Putih : “Tapi.. (menangis)”

Abang : “Eh, eh, lho kok malah nangis sih?”

Putih : “Anu.. Jempolku jangan diinjak dong..”



Putih kembali ke kali tempat dimana dia mencuci baju tadi..

Putih : “Aduh gimana nih.. Kalau tidak cepat ketemu nanti nggak makan sehari aku..”

Putih : “Eh, kok selendangnya mbaknya itu sama dengan punyanya Ibu ya? (melongo) Ah, tapi masa iya sih?

Kakek : “Tolong! Tolooong!

Putih : “Ada apa, Kek?

Kakek : “Ini lho, kacamata Kakek jatuh, nggak bisa ngambil.. Rematiknya kakek juga kambuh, nggak bisa membungkuk (membungkukkan badan)

Putih : ”Lho.. (mengambilkan kacamata, malu) Ini, Kek..”

Kakek : ”Terimakasih ya, anak cantik.. (memakai kacamata) Wah, kok cantik beneran!

Putih : (cengengesan) ”Saya permisi dulu, Kek..”

Kakek : ”Jangan terburu-buru.. Sebentar, sebentar, nak.. Ini.. (memberi plastik berisi ikan)”

Putih : (bingung) “Terimakasih, Kek..”

Kakek : “Hati-hati ya dengan ikannya! Yang rukun..”



Putih : (mengguncang-guncang ikan)

Ikan : “Aduh, pusing kepalaku! Jangan keras-keras dong!”

Putih : “Astaghfirullah! Siluman apa kamu?

Ikan : “Eits! Aku bukan siluman. Aku ikan asli.. Tapi gini-gini aku itu ikan ajaib. Kaya lampu ajaib di ceritanya Aladdin itu lho”

Putih : “Oo.. Berarti bisa sulapan juga ya? Ck ck..”

Ikan : “Jika hanya sulapan ya gampang dong!”

Putih : “Ah, yang bener?”

Ikan : “Oke. Kamu mau apa?”

Putih : “Apa ya? Mm.. Aku belum makan dari tadi pagi, aku minta roti saja”

Ikan : “Gampang!” (seseorang melempar roti ke Putih)

Putih : (meniru iklan) “Wah, ajaib!”

Ikan : “Apa lagi?”

Putih : “Oya, selendangnya Ibu hilang, kamu bisa tolong aku?”

Ikan : “Oo itu.. Tidak usah dicari, nanti juga ketemu sendiri dengan orang yang mengambil”

Putih : “Hah? Diambil orang? Siapa?”

Ikan : “Ciri-cirinya, mbak-mbak, tapi bukan mbak-mbak. Banci.. Punya tahi lalat di pipi kanannya”

Putih : “Maksudnya gimana sih? Eh, lho, lho.. Kok ikannya merem. Eh, jangan tidur dulu!

Sementara itu, dirumah..

Ibu : “Aduh, rumah kok kotornya minta ampun. Abang, ayo nak, Ibu dibantu bersih-bersih”

Abang : “Alah Ibu ini lho, nanti aku malah bau. Nanti tidak ada yang mau sama aku gimana..”

Ibu : “Cup-cup nak.. Kamu itu cantik, tidak akan ada yang tidak mau sama kamu..”

Abang : “He he he.. Siapa dulu dong Ibunya..”




Putih : “Aduh, yang mana sih! Kok mirip-mirip semua. Tanya sama mbaknya itu aja ah! (menghampiri banci)

Putih : “Mbak, mbak, anu.. Mau tanya..”

Banci : “Tanya eke? Apa? Nama? Atau nomer telepon?”

Putih : “Bukan! Anu, begini lho.. Mau tanya, mbak tahu tidak, ada perempuan yang memakai selendang kuning?”

Banci : (menyembunyikan selendang) ”Eke nggak tahu tuh. Eh kalo boleh tau, ciri-cirinya gimana sih?”

Putih : “Pokoknya pakai selendang warna kuning. Mm.. Juga ada tahi lalat di pipi kanannya, seperti.. Ya seperti mbaknya ini!

Banci : “Yey pasti salah orang! Ini bukan tahi lalat, tapi tanda lahir. Yang lain aja ye! Dah..” (menjatuhkan selendang)

Putih : “Lho, itu kan selendangnya Ibuku!”

Banci : (mengambil selendang) ”Oo bukan! Bukan!” (lari)

Putih : “Eh, eh, tunggu mbak! Mbak!” (mengejar)



Di kerajaan Antah Berantah, Pangeran Panji Asmoro Sakit Mata Keliliban Bata sedang susah mencari jodoh..

Pangeran : “Aduh Tuhan.. Kenapa belum ada yang cocok denganku?”

(pengawal datang)

Pengawal : ”Lapor, Pangeran..”

Pangeran : “Bagaimana, apa sudah disebar pengumumannya?”

Pengawal : “Sudah, Pangeran. Para gadis sudah dikasih tahu semua”

Pangeran : “Ya sudah. Kalau begitu sekarang siapkan kuda, ayo kita ke desa!”

Pengawal : “Siap, Boss!”



Abang : “Ibu! Ibu!”

Ibu : “Ada apa sih, nak?

Abang : “Ini lho Bu, ada sayembara. Pangeran sedang mencari istri. Aku mendengar dari tetangga depan rumah itu lho”

Ibu : “Wah berita bagus tuh! Jangan sampai disia-siakan!”

Abang : “Tapi Bu, Putih bagaimana?”

Ibu : “Alah, tenang saja.. Pangeran pasti terpesona denganmu, akan memilihmu”

Abang : “Ah, yang bener, Bu?”

Ibu : “Percaya dong sama Ibu.. Ayo cepat, kamu siap-siap dandan yang cantik, nanti kalau-kalau Pangeran ke sini”

Abang : “Iya, Bu..”



Pada waktu itu Putih sedang mengejar orang banci tadi yang mengambil selendang Ibunya..

Putih : “Hayoo.. Sekarang kamu nggak bisa ke mana-mana” (terengah-engah)

Banci : “Ampun! Ampun.. Iya, iya, eke yang mengambil selendangmu. Tapi ampun ya.. Ampun!

Putih : “Ya. Tapi cepat kembalikan!”

Banci : “Tapi eke sudah cucok bambang dengan selendang ini. Huuu…“

Putih : “Aku bisa-bisa dihajar jika tidak membawa kembali selendang itu. (berpikir) Ya begini saja deh, tukar-tukaran saja. Selendang itu aku tukar dengan ikan ini mau tidak? Harus mau lho!”

Banci : “Plis deh! Kok cuma ikan sih?”

Putih : “Sudah mencuri masih nawar! Jangan sembarangan, ini ikan ajaib lho”

Banci : “Masa? Ya sudah, daripada tidak dapat apa-apa. Nyoh! (menukar selendang dengan ikan)

Putih : “Thanks ya!”

Banci : “Yuuukk..”



Pangeran : “Pringisi.. Eh, permisi..” (jatuh)

Ibu : “Hati-hati dong, Pangeran.. Silahkan masuk dulu.. Abang! Ini lho, ada Pangeran”

Abang : “Eh, Pangeran.. Lebih ganteng daripada yang di foto (colak-colek)”

Pangeran : (risih) “Anu, anak Ibu hanya satu?”

Ibu : “Oo, iya! Ini anak perempuan semata wayang saya. Cantik, kan! Abang namanya”

Abang : (mesam-mesem)

(Putih lalu datang)

Putih : “Lho, ada apa ini kok ramai-ramai?”

Ibu+Abang : (melotot) “Putih!”

Putih : “Itu lho, Bu. Selendang Ibu sudah ketemu”

Pangeran : (menggumam) “lho, gadis ini kan yang sering aku impi-impikan..”

Abang : “Aduh, Pangeran.. Dia itu hanya saudara angkat saya”

Pangeran : (mengangkat satu tangan) “Kalian semua dengarkan saya.. Sebenarnya saya sudah menemukan siapa yang akan saya jadikan istri”

Ibu : “Siapa, Pangeran?”

Abang : “Ya pasti aku ya, Bu?”

Pangeran : “Ehem.. Putih, sini.. (menggenggam tangan Putih)

Putih : (keheranan)

Abang : “Lho, tapi.. Tapi”

Pangeran : “Ayo cantik, ikut aku.. (berteriak) MAK , AKU MAU KAWIIIN!

Pangeran dan putih menikah dan mereka pun bahagia selamanya..........

4 komentar:

rizkimufty mengatakan...

BUAHAHAHAHAHHA!!! KETAWA BENERAN AKu!! haahahha lucu betul!

nadya anper mengatakan...

karya temen aku tuh,

ak kedapetan jadi ikan ajaib+pangeran pokoknya ribet bener. (propertinya pangeran harus pake pecis)
-_____________-
maluuuuu.. tapi puaas.. :D

rizkimufty mengatakan...

:D!!

haha bener2lah.. ini critanya bisa menangin OSCAR!

nadya anper mengatakan...

TOENG?!

OSCAR ?
piala oscar ngerti banci nggak yee?

hhahhaha :D

Posting Komentar

BURUAN KASIH KOMENTAR KALO NGGAK .. dijatohin kotoran cicak mampus loe!! wkakaaaa (nadya kejeem)

Back to Top